Wednesday, February 17, 2010

Zina Mata : Sanggupkah??

Zina Mata : Sanggupkah??

Mata merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta`ala yang boleh mendatangkan kemuliaan, tetapi juga boleh mendatangkan laknat yang membinasakan. Mata yang selalu melihat fenomena kehidupan alam dan seisinya dan kemudian menimbulkan rasa syukur kepada Maha Pencipta, seterusnya akan mendatangkan kemuliaan dan kebahagiaan di sisiNya. Sebaliknya, mata yang merupakan anugerah yang paling berharga itu, bolehmendatangkan laknat yang membinasakan bagi manusia, apabila ia menggunakan matanya untuk berbuat khianat terhadap Rabbnya.



Dalam Islam ada jenis maksiat yang disebut dengan ‘zina mata’ (lahadhat). Lahadhat itu, pandangan kepada hal-hal, yang menuju kemaksiatan. Lahadhat bukan hanya sekadar memandang, tetapi diikuti dengan pandangan selanjutnya. Pandangan mata adalah sumber itijah (orientasi) kemuliaan, juga seterusnya menjadi duta nafsu syahwat. Seseorang yang menjaga pandangan bererti dia menjaga kemaluannya. Barangsiapa yang tidak menjaga pandangannya, maka manusia itu akan terjerumus kepada perkara yang membinasakannya.



Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam, pernah menasihati Ali :



“Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik kamu adalah pandangan yang pertama sahaja dan yang kedua tidak.”



Dalam musnad Ahmad, disebutkan, Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam, bersabda :



“Pandangan adalah panah beracun dari panah-pandah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokkan wanita yang cantik kerana Allah, maka Allah akan mewariskan dalam hatinya manisnya iman hingga Hari Kiamat”.



Saran hadith itu, tidak lain seperti di jelaskan oleh Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam :



“Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian”. Juga Sabda Baginda: “Jauhilah kalian duduk di pinggir jalan”. Para Sahabat berkata : “Pinggir jalan itu adalah tempat duduk kami, kami tidak boleh meninggalkan”. Baginda bersabda lagi : “Jika kalian harus duduk di jalan, maka berikanlah haknya”. Mereka berkata : “Menundukkan pandangan dan menahan diri untuk tidak menganggu, baik dengan perkataan atau perbuatan dan menjawab salam."



Melihat adalah sumber dari segala bencana yang menimpa diri manusia. Melihat melahirkan lamunan atau khayalan dan khayalan melahirkan pemikiran, fikiran melahirkan syahwat dan

syahwat melahirkan keinginan, keinginan itu terus menguat, kemudian menjadi tekad dan terjadi apa yang selagi tidak ada yang menghalanginya. Dalam hal ini ada hikmah yang mengatakan :



“Menahan pandangan lebih ringan dari pada bersabar atas kesakitan (siksa) setelah itu."



Seorang Arab dengan syairnya,



"Semua bencana itu bersumber dari pandangan,
Seperti api besar itu bersumber dari percikan bunga api,
Betapa banyak pandangan yang menancap dalam hati seseorang,
Seperti panah yang terlepas dari busurnya,
Berasal dari sumber matalah semua marabahaya,
Mudah beban melakukannya, dilihat pun taidk berbahaya,
Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana".


Bahaya memandang yang haram adalah timbulnya penderitaan dalam diri seseorang. Kerana tidak mampu menahan gejolak jiwanya yang diterpa nafsu. Akibat seterusnya adalah seorang hamba akan melihat sesuatu yang tidak akan tahan dilihatnya. Ini adalah sesuatu yang menyiksa, yang paling pedih, jangankan melihat semuanya, melihat sebahagian saja tidak akan mampu menahan gejolak jiwanya.

Seorang penyair berkata,

"Ketika engkau melemparkan pandanganmu dari hatimu,
Suatu hari engkau akan merasakan penderitaan,
kerana melihat akibat-akibatnya,
Kamu akan melihat siksa yang kamu tidak mampu melihat keseluruhannya,
Dan kamu tidak akan bersabar melihat walau sebahagiannya cuma."


Penyair lainnya berkata,


"Wahai manusia yang melihat yang haram, tidakkah pandangannya dilepaskan,Sehingga ia jatuh mati menjadi korban".

Pandangan seseorang adalah panah yang berbisa. Namun, yang sangat menghairankan, belum sampai panah itu mengenai apa yang dilihat, panah itu telah mengenai hati orang yang melihat.


Penyair lain berkata pula,

"Wahai orang yang melemparkan panah pandangan dengan serius, kamu sudah terbunuh, kerana yang kau panah, padahal panahmu tidak mengenai sasarannya."

Tentu, yang lebih menghairankan lagi, bahawa dengan sekali pandangan, hati akan terluka dan akan menimbulkan luka demi luka lagi dalam hati. Sakit itu tidak akan hilang selamanya dan ada keinginan mengulang kembali pandangannya. Ini pesan yang disampaikan dalam bait-

bait syair tersebut..

"Terus menerus kamu melihat dan melihat,
Setiap yang cantik-cantik,
Kamu mengira bahwa itu adalah obat bagi lukamu,
Padahal sebenarnya itu melukai luka yang sudah ada".


Sebuah hikmah yang mengatakan, “Sesungguhnya menahan pandangan-pandangan kepada yang haram lebih ringan daripada menahan penderitaan yang akan ditimbulkan terus menerus”.

Jagalah matamu, dan jangan engkau kotori setitik debu dosa, yang akan mengantarkan dirimu kepada kebinasaan, kerana pengkhianatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Matamu adalah anugerah agar mengenalNya, dan kemudian

beribadah kepadaNya, menggapai redhaNya. Jangan dengan matamu itu, engkau campakkan dirimu ke dalam nafsu derhaka, yang membinasakan.

Betapa banyak manusia yang mulia, berakhir dengan nestapa dan hina, kerana tidak dapat mengedalikan matanya. Matanya tidak dapat lagi menyebabkan seseorang menjadi bersyukur atas anugerah nikmat, yang tak terbatas, yang tak terhingga, bagaikan sinar matahari, yang selalu menerangi alam kehidupannya.


Tetapi, kerana matanya yang sudah penuh dengan hamparan nafsu itu, hidup menjadi penuh dengan gulita,yang mengarahkan seluruh kehidupannya hanya diisi dengan segala pengkhianatan terhadap Rabbnya.

Wallahu’alam.

1 comment:

maiyah said...

perliharalah mataku dr brbuat zina