Sunday, February 5, 2012

Mengenali Ghazwul Fikr

Ghazwul fikri berasal dari kata “al-ghazw” dan “al fikr”, yang secara harfiah dapat diartikan “perang pemikiran”. Yang dimaksud ialah upaya upaya gencar pihak musuh musuh Allah SWT untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-­akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini. Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjun­kan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100 ribu personil, hampir 1 berbanding 35. Allah meme­nang­kan kaum muslimin dalam pertem­puran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib mencipta­kan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh musuh Allah itu mengirimkan putra putra terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempe­lajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancur­kannya. Pembela­jaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadits dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka, kuasai.

Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri negeri Islam guna mencari kelemahan negeri negeri Islam itu. Di antara penyataan mereka ialah, “Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpe­gang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan, perdana menteri Inggris, juga mengata­kan hal yang sama, “Percuma meme­rangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda pemuda Islam Al-Qur`an masih bergelora. Tugas kita. kini adalah mencabut Al-Qur`an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.”

Dalam konteks ini, Al-Qur‘an mengatakan, ­arti­nya, “Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesung­guhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka” (Qs. Fathir 6).

Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat Al-An’am. bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia.

Setan setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modem yang super canggih. Di sisi lain, musuh musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur dan lembaga lembaga Inter­nasio­nal, baik politik maupun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh dakwah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam genggaman mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional.

Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, misi yang mereka emban tentu merugi­kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup.

Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu, komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang orang yang betul-betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apalagi menerbitkan koran atau majalah yang benar benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali­pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam menghits serangan musuh musuh Allah itu nyaris tak ada.

Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor kantor berita Barat (kafir) yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi). Kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul betul menguasainya secara baik. Inilah salah satu di antara kelemahan kelemahan dan keterbelakangan umat Islam.

Al-Qur‘an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman pernah mendakwahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan berupa sepucuk surat khusus, yang akhirnya berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi dakwah sederhana antara Nabi Sulaiman dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers, maka berarti pers telah eksis pada zaman nabi nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad SAW pun dalam mendakwahkan Islam kepada raja raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya memper­gunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini.

Dalam dunia modern kini, pers menempati posisi sangat penting, antara lain dapat mem­bentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar benar faham akan dakwah dan memang merupakan dai (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslimin atau menya­kit­kan umat Nabi Muhammad SAW. Tetapi kenya­ta­an membuktikan, di dunia ini tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang sub­stansinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati ka­um mukmin serta mele­­cehkan Al-Qur‘an, tetapi lebih parah dari sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pe­mim­­pin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan mem­bela musuh musuh Allah SWT. Naudzu billaah min dzaalik!

Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru. Serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi akidah umat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau akidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir adalah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah SWT ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikri (perang ideologi). Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru, tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media media massa lainnya, baik cetak maupun elek­tro­nik, baik yang sederhana, maupun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau meng­imbangi serbuan ghazwul fikri itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis ­Muslim yang betul betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana.

Tulisan tulisan yang diturunkan atau dipro­duk­­sinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang Al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler, terutama yang tak henti-henti­nya menyerang Islam dengan berbagai cara.

Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilu­pa­kan adalah, mun­cul­nya musuh musuh Islam dari dalam tubuh umat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya ada­nya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat Kyai Haji atau profesor-doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi nabi dahulu, selalu ada saja manusia manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah SWT yang fana ini. Kalau mereka menerbit­kan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau menulis juga, isinya tentu dipoles sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diung­kapkan. Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan.

Mudah-mudahan Allah memberi kita kemam­puan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah SWT, menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu mendakwahkan dan memper­juang­kannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi­Nya selama lamanya.

Amin ya Rabbal ‘alaimin

No comments: